by :
admin

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ikhwan akhwat fillah…
Para pengurus DPD, DPC, dan DPRa se-kabupaten Tasikmalaya yang saya cintai dan saya banggakan. Puji syukur kita panjatkan pada Allah SWT. Secara khusus saya secara pribadi karena pada hari ini Allah mentakdirkan saya berada ditempat ini yang mungkin dalam sejarah partai baru kali ini saya berdiri di seluruh jajaran pengurus sekabupaten Tasikmalaya dari DPD sampai dengan DPRa. Tapi mungkin dengan beberapa sudah pernah.Tapi ini adalah momen yang sangat luar biasa dan tadi saya begitu masuk sangat kaget juga ternyata sudah membludak sampai diluar. Tentu saya ingin bersama-sama antum sekalian mendoakan semoga shalawat dan salam Allah limpahkan pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, sahabatnya, dan seluruh pengikutnya sampai akhir zaman termasuk kita sekalian.
Ikhwan akhwat fillah…
Tadi sudah disampaikan oleh moderator maupun oleh ustadz Asep beberapa hal yang esensial dalam dakwah kita dan partai kita bahwa bagi kita berpartai itu adalah bukan semata-mata bentuk kekuasaan, bukan semata-mata menempatkan seseorang pada suatu posisi yang mungkin dipersepsi oleh orang selalu memberi kemudahan-kemudahan.Itu tidak kita pungkiri bahwa itu memang ada. Perjuangan kader-kader ini bukanlah untuk menempatkan seseorang pada posisi tertentu. Dalam platform PKS, politik dalam bahasa arab artinya siyasah, sais kalau kita mengendara delman, pengendalinya bernama "sais". Jadi politik bagi PKS adalah persoalan pengendalian. Apa yang dikendalikan?
SIYASAH
Pertama adalah Siyasah Dzatiyah
Dalam platform disebutkan bahwa pengendalian harus dimulai dari Siyasah Dzatiyah: pengendalian diri. Jadi kalau kita sudah bisa mengendalikan diri kita, maka dalam pandangan PKS kita sudah berpolitik. Jadi tidak perlu jauh-jauh berpolitik itu. Mengendalikan diri kita saja itu sudah berpolitik.
Kedua adalah Siyasah A'iliyah (siyasah usroh)
Yaitu pengendalian keluarga kita. Jadi kalau seorang ayah, ibu bisa membuat keluarganyasakinah mawaddah warahmah maka dia sedang berpolitik. Dalam pengertian pengendalian. Jadi antum semua ini sebetulnya sudah menjadi politisi semua, dalam pengertian PKS seperti itu.
Ketiga adalah Siyasatul Mujtama'
Yaitu bagaimana kita mengelola mengendalikan masyarakat supaya menjadi masyarakat yang baik dan tertib. Maka saya terus terang saja belakangan ini menerima kabar dan saya menjadi terharu, ini kejadiannya kebanyakan ada di DIY, itu kader-kader kita yang menjadi kepala desa/dusun sekarang banyak disana.Saya selalu mendengar kabar begitu ada kader yang menjadi kepala dusun. Luar biasa, karena posisi itu sekarang kurang diminati, namun kader kita ada yang mau menekuni. Bahkan ada seorang akhwat menjadi kepala dusun dengan suara aklamasi, karena dia diakui eksistensinya oleh masyarakat itu, jadi tidak perlu lagi ada kampanye. Kader-kader kita sudah berpolitik dalam pengertian PKS yaitu Siyasatul Mujtama'.
Terakhir adalah Siyasatul Daulah
Ini yang kita bayangkan, politik itu-itu saja. Jadi pertarungan memperebutkan bagaimana mengelola negara. Itu sebetulnya adalah tahap akhir. Sebetulnya bukan tahap akhir, nanti ada politik pengendalian dunia. Tapi dalam konteks kita sebagai bangsa itu adalah hak terakhir, karena itu tatibnya atau maratibul amal-nya. Jadi orang yang tidak berhasil mengendalikan dirinya, keluarganya tidak mungkin dia akan menjadi pejabat publik yang mampu mengendalikan negara.
Betapa mulianya berpolitik dalam pandangan kita yaitu Islam yang kemudian kita masukkan dalam platform PKS. Antum bisa baca agar antum semakin mantap bahwa kita bergerak di PKS ini bulan semata-mata untuk mendudukkan seseorang pada suatu posisi tapi kita punya tujuan yang sangat mulia.
VISI
Yang kedua ini untuk memperkuat hal tersebut, saya sering katakan bahwa di Indonesia bahkan dunia, mungkin PKS ini satu satunya partai yang mempunyai level 4 visi. Visi bukan hanya satu tapi empat. Visinya itu saja empat level.
Visi pertama adalah Visi Pengkaderan
Yaitu bersih, peduli, profesional. Itu sudah harus menjadi satu hal yang mendarah-daging dan terintegrasi dan itu sudah menjadi ciri partai dalam AD ART. Antum jangan kemudian mengatakan cinta, kerja, harmoni itu menggantikan, bukan. Cinta, kerja harmoni ini menjadi tagline menghadapi 2014, supaya antum tambah semangat. Bahwa antum bekerja dan bergerak itu berdasarkan cinta dan karena cinta tentu ingin berkorban dan bekerja demi masyarakat. Jika kader sudah memberikan cinta, memberikan satu bakti bekerja, insya Allah masyarakat akan harmoni. Tetapi visi pada level kader itu bersih, peduli, profesional.Silakan antum baca di AD/ART yang sudah kita serahkan ke KPU.
Visi kedua adalah Visi Kelembagaan
Menjadi partai dakwah yang kokoh dan transformatif untuk melayani bangsa. Jadi SDM-nya bersih, peduli, profesional itu kemudian akan menciptakan level kedua partai dakwah yang kokoh. Pertanyaan saya, mungkinkah partai kokoh akan tercipta kalau kadernya tidak bersih, tidak peduli dan tidak profesional. Tidak mungkin. Jadi kalau kita ingin mempunyai partai dakwah yang kokoh, maka harus berawal dari kebersihan kader-kadernya dan profesional dalam bekerja. Baru partai dakwah yang kokoh dan transformatif akan tercipta.
Visi ketiga adalah Visi Nasional (kebangsaan)
Jadi pembinaan, kelembagaan dan kebangsaan. Itu yang ditulis dalam platform PKS 25 tahun ke depan, mewujudkan masyarakat madani yang adil, sejahtera dan bermartabat. Kita yakin, PKS yang kadernya bersih, peduli, profesional kemudian memang partainya kokoh dan transformatif. Berarti kalau kokoh tidak pernah ada gonjang ganjing dan saling sikut di dalam.Kemudian semuanya berbicara tentang transformatif: Ishlah dan ishlah yaitu perbaikan. Masyarakat madani yang adil, sejahtera dan bermartabat itu insya Allah akan dapat diciptakan oleh PKS dan kader-kadernya.
Visi keempat adalah Visi Peradaban
Ini adalah sebuah cita-cita kita agar Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim terbesar di dunia menjadi guru peradaban dunia, menjadi penyokong peradaban dunia. Semua kita gaya-gayaan pakai hp, tapi buatan orang lain. Kita hanya pengguna saja, dan tidak pernah menciptakan teknologi baru. Kita tidak menyumbangkan apa apa pada peradaban dunia. Kita inginnya Indonesia yang sudah madani itu kemudian adil dan sejahtera dan bermartabat itu menjadi soko guru peradaban dunia. Teknologi baru itu nanti munculnya dari Indonesia. Ada pemikiran baru, lahirnya dari Indonesia (muslim Indonesia), itulah yang kita cita-citakan. Betul kata ustadz Asep tadi, terlalu mahal perjuangan kita jika cita-citanya terlalu cetek, menempatkan 43 BCAD dari Tasik. Tapi kita punya cita-cita besar. Ini harus menjadi sesuatu yang terus mengiang-ngiang dalam benak kita.
Ikhwah fillah…
Untuk itu semua, sebagai pengantar terakhir, saya menitipkan beberapa hal, pertama luruskan niat kita, apa benar saya bicara disini saya selalu lurus niat kita, yang tahu hanya diri kita, istri saja belum tentu tahu. Benar tidak niat kita masih lurus. Istri saja belum tentu tahu. Maka marilah kita terus menerus menyehatkan qalbu kita. Niat kita luruskan. Niat yang lurus itulah Inilah modal dalam pencapaian keempat level visi. Kalau tidak ada niat yang ikhlas dakwah ini bisa hancur. Saya sering mengatakan meskipun kita ini jamaah manusia, kenapa dakwah ini masih tetap tegak mungkin karena banyak orang-orang ikhlas disini dan kita tidak tahu siapa yang ikhlas disini, diri kitakah? antum semuakah? yang tahu hanya Allah SWT. Apakah otomatis yang duduk di DPR itu yang paling ikhlas? belum tentu, itu semua ada di tangan Allah SWT. Tugas kita adalah bagaimana betul-betul kita menata hati.
Kedua, rapatkan barisan. Jadi kokohkan barisan kita, seperti yang saya katakan bahwa kita harus betul betul menciptakan ukhuwah yang baik, jangan saling sikut, apalagi disampaikan ustadz Asep tadi mengenai sistem pemilu yang terbuka, proporsional terbuka yang otomatis suara terbanyak. Itu kan kalau tidak dikelola dengan baik maka perasaan yang baik dan ikhlas. Maka jangankan dengan partai lain, sesama kita saja bertarung. Ini saya tidak akan cerita dimananya. Namun ada diantara kita yang saling tempel-tempel foto. Foto kader kita ditempel sama foto kader kita juga. Ini kalau sudah begini, menurut saya, yang kasihan itu kader sendiri. Ternyata yang diberi amanah oleh kader itu justru tidak baik. Saya yakin di Tasikmalaya tidak ada. Maka tingkatkan ukhuwah. Maka PKS kemarin berjuang dengan sistem proporsional tertutup, sehingga tidak ada saling sikut.
Ketiga, bekerja, bekerja dan bekerja. Kita harus semakin mendekatkan diri pada masyarakat, jangan menjauh dari masyarakat. Tidak boleh jika masyarakat disana dan kita disini. Kita ini berasal dari masyarakat, bukan dari langit. Kita mendapatkan amanah jadi pimpinan bukan karena dari langit. Kita ini bersama mereka tadinya.Kita berbuat dan bekerja bersama mereka. Kita harus bersama mereka. Dalam konteks bekerja ini selain kita bekerja dengan baik dan bersama masyarakat. Ada satu hal yang ingin saya titipkan, Ustadz Asep mengatakan tantangan 2004, berita dari pusat dari 1999 sampai 2004 itu membuat kita bangga, aman-aman saja. Lalu 2009 kita mulai mendapat tantangan karena pertarungan ini semakin sengit. Karena kita sadar kita ini sedang berdakwah dalam menegakkan kebenaran, maka pertarungannya akan kuat.
Karena itu dalam bekerja harus perlu kalkulasi, harus menyadari kelemahan dan jangan sembrono dalam bekerja. Teman-teman kita ini karena punya HP, kadang-kadang obrolan apa saja disebar, niatnya sih bagus karena ingin bekerja dan menghemat tapi tidak pada tempatnya. Ini menjadi makanan empuk mangsa bagi orang-orang yang menginginkan PKS hancur. Harus hati-hati. Kita tidak punya kelemahan saja dicari-cari, apalagi kalau kita punya persoalan. Ada operasi cumi-cumi yang kerjaannya mencari-cari kesalahan orang. Pertama luruskan niat, rapatkan barisan, bagaimana antum membuat perencanaan matang dan bekerja. []
Sumber: Rangkuman orasi Ust. Shohibul Iman dalam Temu Kader se-Tasikmalaya

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ikhwan akhwat fillah…
Para pengurus DPD, DPC, dan DPRa se-kabupaten Tasikmalaya yang saya cintai dan saya banggakan. Puji syukur kita panjatkan pada Allah SWT. Secara khusus saya secara pribadi karena pada hari ini Allah mentakdirkan saya berada ditempat ini yang mungkin dalam sejarah partai baru kali ini saya berdiri di seluruh jajaran pengurus sekabupaten Tasikmalaya dari DPD sampai dengan DPRa. Tapi mungkin dengan beberapa sudah pernah.Tapi ini adalah momen yang sangat luar biasa dan tadi saya begitu masuk sangat kaget juga ternyata sudah membludak sampai diluar. Tentu saya ingin bersama-sama antum sekalian mendoakan semoga shalawat dan salam Allah limpahkan pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, sahabatnya, dan seluruh pengikutnya sampai akhir zaman termasuk kita sekalian.
Ikhwan akhwat fillah…
Tadi sudah disampaikan oleh moderator maupun oleh ustadz Asep beberapa hal yang esensial dalam dakwah kita dan partai kita bahwa bagi kita berpartai itu adalah bukan semata-mata bentuk kekuasaan, bukan semata-mata menempatkan seseorang pada suatu posisi yang mungkin dipersepsi oleh orang selalu memberi kemudahan-kemudahan.Itu tidak kita pungkiri bahwa itu memang ada. Perjuangan kader-kader ini bukanlah untuk menempatkan seseorang pada posisi tertentu. Dalam platform PKS, politik dalam bahasa arab artinya siyasah, sais kalau kita mengendara delman, pengendalinya bernama "sais". Jadi politik bagi PKS adalah persoalan pengendalian. Apa yang dikendalikan?
SIYASAH
Pertama adalah Siyasah Dzatiyah
Dalam platform disebutkan bahwa pengendalian harus dimulai dari Siyasah Dzatiyah: pengendalian diri. Jadi kalau kita sudah bisa mengendalikan diri kita, maka dalam pandangan PKS kita sudah berpolitik. Jadi tidak perlu jauh-jauh berpolitik itu. Mengendalikan diri kita saja itu sudah berpolitik.
Kedua adalah Siyasah A'iliyah (siyasah usroh)
Yaitu pengendalian keluarga kita. Jadi kalau seorang ayah, ibu bisa membuat keluarganyasakinah mawaddah warahmah maka dia sedang berpolitik. Dalam pengertian pengendalian. Jadi antum semua ini sebetulnya sudah menjadi politisi semua, dalam pengertian PKS seperti itu.
Ketiga adalah Siyasatul Mujtama'
Yaitu bagaimana kita mengelola mengendalikan masyarakat supaya menjadi masyarakat yang baik dan tertib. Maka saya terus terang saja belakangan ini menerima kabar dan saya menjadi terharu, ini kejadiannya kebanyakan ada di DIY, itu kader-kader kita yang menjadi kepala desa/dusun sekarang banyak disana.Saya selalu mendengar kabar begitu ada kader yang menjadi kepala dusun. Luar biasa, karena posisi itu sekarang kurang diminati, namun kader kita ada yang mau menekuni. Bahkan ada seorang akhwat menjadi kepala dusun dengan suara aklamasi, karena dia diakui eksistensinya oleh masyarakat itu, jadi tidak perlu lagi ada kampanye. Kader-kader kita sudah berpolitik dalam pengertian PKS yaitu Siyasatul Mujtama'.
Terakhir adalah Siyasatul Daulah
Ini yang kita bayangkan, politik itu-itu saja. Jadi pertarungan memperebutkan bagaimana mengelola negara. Itu sebetulnya adalah tahap akhir. Sebetulnya bukan tahap akhir, nanti ada politik pengendalian dunia. Tapi dalam konteks kita sebagai bangsa itu adalah hak terakhir, karena itu tatibnya atau maratibul amal-nya. Jadi orang yang tidak berhasil mengendalikan dirinya, keluarganya tidak mungkin dia akan menjadi pejabat publik yang mampu mengendalikan negara.
Betapa mulianya berpolitik dalam pandangan kita yaitu Islam yang kemudian kita masukkan dalam platform PKS. Antum bisa baca agar antum semakin mantap bahwa kita bergerak di PKS ini bulan semata-mata untuk mendudukkan seseorang pada suatu posisi tapi kita punya tujuan yang sangat mulia.
VISI
Yang kedua ini untuk memperkuat hal tersebut, saya sering katakan bahwa di Indonesia bahkan dunia, mungkin PKS ini satu satunya partai yang mempunyai level 4 visi. Visi bukan hanya satu tapi empat. Visinya itu saja empat level.
Visi pertama adalah Visi Pengkaderan
Yaitu bersih, peduli, profesional. Itu sudah harus menjadi satu hal yang mendarah-daging dan terintegrasi dan itu sudah menjadi ciri partai dalam AD ART. Antum jangan kemudian mengatakan cinta, kerja, harmoni itu menggantikan, bukan. Cinta, kerja harmoni ini menjadi tagline menghadapi 2014, supaya antum tambah semangat. Bahwa antum bekerja dan bergerak itu berdasarkan cinta dan karena cinta tentu ingin berkorban dan bekerja demi masyarakat. Jika kader sudah memberikan cinta, memberikan satu bakti bekerja, insya Allah masyarakat akan harmoni. Tetapi visi pada level kader itu bersih, peduli, profesional.Silakan antum baca di AD/ART yang sudah kita serahkan ke KPU.
Visi kedua adalah Visi Kelembagaan
Menjadi partai dakwah yang kokoh dan transformatif untuk melayani bangsa. Jadi SDM-nya bersih, peduli, profesional itu kemudian akan menciptakan level kedua partai dakwah yang kokoh. Pertanyaan saya, mungkinkah partai kokoh akan tercipta kalau kadernya tidak bersih, tidak peduli dan tidak profesional. Tidak mungkin. Jadi kalau kita ingin mempunyai partai dakwah yang kokoh, maka harus berawal dari kebersihan kader-kadernya dan profesional dalam bekerja. Baru partai dakwah yang kokoh dan transformatif akan tercipta.
Visi ketiga adalah Visi Nasional (kebangsaan)
Jadi pembinaan, kelembagaan dan kebangsaan. Itu yang ditulis dalam platform PKS 25 tahun ke depan, mewujudkan masyarakat madani yang adil, sejahtera dan bermartabat. Kita yakin, PKS yang kadernya bersih, peduli, profesional kemudian memang partainya kokoh dan transformatif. Berarti kalau kokoh tidak pernah ada gonjang ganjing dan saling sikut di dalam.Kemudian semuanya berbicara tentang transformatif: Ishlah dan ishlah yaitu perbaikan. Masyarakat madani yang adil, sejahtera dan bermartabat itu insya Allah akan dapat diciptakan oleh PKS dan kader-kadernya.
Visi keempat adalah Visi Peradaban
Ini adalah sebuah cita-cita kita agar Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim terbesar di dunia menjadi guru peradaban dunia, menjadi penyokong peradaban dunia. Semua kita gaya-gayaan pakai hp, tapi buatan orang lain. Kita hanya pengguna saja, dan tidak pernah menciptakan teknologi baru. Kita tidak menyumbangkan apa apa pada peradaban dunia. Kita inginnya Indonesia yang sudah madani itu kemudian adil dan sejahtera dan bermartabat itu menjadi soko guru peradaban dunia. Teknologi baru itu nanti munculnya dari Indonesia. Ada pemikiran baru, lahirnya dari Indonesia (muslim Indonesia), itulah yang kita cita-citakan. Betul kata ustadz Asep tadi, terlalu mahal perjuangan kita jika cita-citanya terlalu cetek, menempatkan 43 BCAD dari Tasik. Tapi kita punya cita-cita besar. Ini harus menjadi sesuatu yang terus mengiang-ngiang dalam benak kita.
Ikhwah fillah…
Untuk itu semua, sebagai pengantar terakhir, saya menitipkan beberapa hal, pertama luruskan niat kita, apa benar saya bicara disini saya selalu lurus niat kita, yang tahu hanya diri kita, istri saja belum tentu tahu. Benar tidak niat kita masih lurus. Istri saja belum tentu tahu. Maka marilah kita terus menerus menyehatkan qalbu kita. Niat kita luruskan. Niat yang lurus itulah Inilah modal dalam pencapaian keempat level visi. Kalau tidak ada niat yang ikhlas dakwah ini bisa hancur. Saya sering mengatakan meskipun kita ini jamaah manusia, kenapa dakwah ini masih tetap tegak mungkin karena banyak orang-orang ikhlas disini dan kita tidak tahu siapa yang ikhlas disini, diri kitakah? antum semuakah? yang tahu hanya Allah SWT. Apakah otomatis yang duduk di DPR itu yang paling ikhlas? belum tentu, itu semua ada di tangan Allah SWT. Tugas kita adalah bagaimana betul-betul kita menata hati.
Kedua, rapatkan barisan. Jadi kokohkan barisan kita, seperti yang saya katakan bahwa kita harus betul betul menciptakan ukhuwah yang baik, jangan saling sikut, apalagi disampaikan ustadz Asep tadi mengenai sistem pemilu yang terbuka, proporsional terbuka yang otomatis suara terbanyak. Itu kan kalau tidak dikelola dengan baik maka perasaan yang baik dan ikhlas. Maka jangankan dengan partai lain, sesama kita saja bertarung. Ini saya tidak akan cerita dimananya. Namun ada diantara kita yang saling tempel-tempel foto. Foto kader kita ditempel sama foto kader kita juga. Ini kalau sudah begini, menurut saya, yang kasihan itu kader sendiri. Ternyata yang diberi amanah oleh kader itu justru tidak baik. Saya yakin di Tasikmalaya tidak ada. Maka tingkatkan ukhuwah. Maka PKS kemarin berjuang dengan sistem proporsional tertutup, sehingga tidak ada saling sikut.
Ketiga, bekerja, bekerja dan bekerja. Kita harus semakin mendekatkan diri pada masyarakat, jangan menjauh dari masyarakat. Tidak boleh jika masyarakat disana dan kita disini. Kita ini berasal dari masyarakat, bukan dari langit. Kita mendapatkan amanah jadi pimpinan bukan karena dari langit. Kita ini bersama mereka tadinya.Kita berbuat dan bekerja bersama mereka. Kita harus bersama mereka. Dalam konteks bekerja ini selain kita bekerja dengan baik dan bersama masyarakat. Ada satu hal yang ingin saya titipkan, Ustadz Asep mengatakan tantangan 2004, berita dari pusat dari 1999 sampai 2004 itu membuat kita bangga, aman-aman saja. Lalu 2009 kita mulai mendapat tantangan karena pertarungan ini semakin sengit. Karena kita sadar kita ini sedang berdakwah dalam menegakkan kebenaran, maka pertarungannya akan kuat.
Karena itu dalam bekerja harus perlu kalkulasi, harus menyadari kelemahan dan jangan sembrono dalam bekerja. Teman-teman kita ini karena punya HP, kadang-kadang obrolan apa saja disebar, niatnya sih bagus karena ingin bekerja dan menghemat tapi tidak pada tempatnya. Ini menjadi makanan empuk mangsa bagi orang-orang yang menginginkan PKS hancur. Harus hati-hati. Kita tidak punya kelemahan saja dicari-cari, apalagi kalau kita punya persoalan. Ada operasi cumi-cumi yang kerjaannya mencari-cari kesalahan orang. Pertama luruskan niat, rapatkan barisan, bagaimana antum membuat perencanaan matang dan bekerja. []
Sumber: Rangkuman orasi Ust. Shohibul Iman dalam Temu Kader se-Tasikmalaya
by :
admin

masih teringat jelas
berat suara nafasmu
perlahan…
tertahan..
beradu dengan langkah sayupmu
kala kau pulang pukul 03.47
kemudian disusul dengan suara asing dari channel TV kesukaanmu
atau suara bisikan bibirmu mengucap, kala kau membaca buku…
atau tawa lepasmu yang menyusul tepat beberapa menit setelah suara telfonmu mendayu..
masih teringat jelas, ayah…
kelembutan sekaligus lelah yang tertahan dan terpaksa terpancar di sorot matamu
kala pagi kami hendak berangkat sekolah
pelukan hangatmu yang seolah tidak risih akan gerak-gerik kami yang membangunkanmu dari lelapmu yang baru..
serta kecupan manismu di kening kami yang seolah membayar segala rindu yang memang telah tertahan sejak kemarin-kemarin..
segalanya, masih teringat jelas ayah..
jelas betul dalam ingatan kami..
takpeduli, bahwa segalanya kini diperantarai oleh selembar dua lembar kertas surat..
dan terkadang, tanpa tersentuh indra kehangatanmu sama sekali..
segalanya, masih teringat jelas.
kemudian malam itu
ketika tangan-tangan asing wartawan
menarik…
mendorong…
memperlakukanmu seolah akan melumat habis dirimu
panas hati kami,
panas jiwa-jiwa kami, ayah..
nafas kami tercekat seakan terhenti sejenak
mata kami terbelalak, namun tetap airmata kami tahan
sengaja tak kami biarkan ia jatuh..
tubuh kami terkaku namun tetap memaksa telinga kami mendengar jernih apa yang mereka tuduhkan kepadamu
kasus suap??
itukah yang merekah tuduhkan?
habiskah akal mereka menuduhkan itu padamu?
tidakkah mereka tau?
detik ketika mereka tidur terlelap menikmati waktu istirahatnya
kau justru baru memulai rapat kesekianmu untuk membersihkan
korupsi, kolusi, nepotisme
yang mereka bilang mereka benci?
tidakkah mereka tau?
ketika mereka asik bermimpi,
terlelap dalam mimpi indahnya
mimpi tentang Negara Republik Indonesia
yang bersih
jauuuuh dari kenistaan dan kemarukan petinggi-petingginya
kala itu kau bekerja keras untuk membuat itu terjadi?
menjadikan itu tidak hanya sebatas mimpi
menjadikan mimpi mereka menjadi realiti,
kenyataan
tidakkah mereka tau?
ketika kata jihad masih sebuah teori bagi mereka
hanya sebatas angan semata,
kau sudah jauh habiskan waktumu,
jiwamu,
fikiranmu,
hartamu untuk itu..
ketika jihad masih menjadi cita-cita bagi kami
kau seakan jauh
jauuuuuuh telah meninggalkan kami…
tidakkah mereka tau?
ketika mereka menggerutu atas kelelahan mereka
mengeluh atas kesibukan dunia mereka
engkau, ayah
ayah kami ini
dengan senyuman hangat dan setengah mata menahan lelahnya
membukakan pintu rumahnya
menerima setiap gerutu tamunya
kekhawatiran tamunya
keluh kesahnya..
kebutuhannya..
kemudian memberinya solusi
tanpa sedetikpun
tanpa sejenak saja ia menoleh kepada istirahatnya
Kepada hak tubuhnya..
sekarang mereka tuduhkan itu kepadamu ayah?
telingakukah yang salah?
Jangan.. Ayah..
jangan ragu untuk memanggil kami ayah..
bawa jiwa-raga kami bersaksi atas jihadmu yang nyata
karna tak secuilpuun hati kami percaya apa kata mereka
apa tuduhan mereka
apa fitnah mereka ayah..
takkan pernah kami percaya
takkan pernah..
kami tidakkan diam menangisimu ayah
kami akan tetap melangkah
melanjutkan langkah jihadmu
tak peduli sekerdil apapun kami
kami tidak akan malu dan menundukkan kepala kami ayah..
kami akan buktikan bahwa semangat kami takkan kalah dari semangatmu
akan kami tunjukkan
akan kami renggut kembali engkau kembali ke langkah jihadmu, ayah..
jangan engkau khawatirkan kami, ayah..
karna sebagaimana Allah SWT bersamamu
Ia juga bersama langkah-langkah kami..
doa kami selalu untukmu ayah..
tetaplah tenang dan tersenyum di sana
tetaplah pancarkan tatapan penuh semangatmu..
penghidup semangat tinggi kami,,
tetaplah tersenyum Ayah
hingga kau kembali ke dekapan kami…
Karya: Putra-Putri Luthfi Hasan Ishaaq
Anak-anak adalah anak-anak. Mereka adalah cermin sebuah kejujuran dan ketulusan dari sekelilingnya. Kasus yang tengah menimpa Luthfi Hasan Ishaaq, mantan Presiden PKS, yang asalnya soal suap daging sapi dan sekarang berubah menjadi TPPU (pencucian uang), jelas berpengaruh kepada anak-anak beliau. Selama hampir dua bulan setengah, mereka tidak berjumpa dengan ayahnya. Maklum, sekarang ini LHI, begitu biasa Luthfi dipanggil, tengah ditahan di Rutan Guntur, Jakarta. Memang, ada juga kunjungan di waktu-waktu tertentu, namun itu tentu tidak cukup mengobati kerinduan mereka terhadap ayah tercinta.
LHI mempunyai putra 13 orang. Syair di atas adalah puisi yang ditulis oleh anak-anaknya, dan kemudian dibacakan di acara Milad PKS di Semarang, pekan lalu, 18-19 April 2013. (Sumber: IslamPos.Com)
masih teringat jelas
berat suara nafasmu
perlahan…
tertahan..
beradu dengan langkah sayupmu
kala kau pulang pukul 03.47
kemudian disusul dengan suara asing dari channel TV kesukaanmu
atau suara bisikan bibirmu mengucap, kala kau membaca buku…
atau tawa lepasmu yang menyusul tepat beberapa menit setelah suara telfonmu mendayu..
masih teringat jelas, ayah…
kelembutan sekaligus lelah yang tertahan dan terpaksa terpancar di sorot matamu
kala pagi kami hendak berangkat sekolah
pelukan hangatmu yang seolah tidak risih akan gerak-gerik kami yang membangunkanmu dari lelapmu yang baru..
serta kecupan manismu di kening kami yang seolah membayar segala rindu yang memang telah tertahan sejak kemarin-kemarin..
segalanya, masih teringat jelas ayah..
jelas betul dalam ingatan kami..
takpeduli, bahwa segalanya kini diperantarai oleh selembar dua lembar kertas surat..
dan terkadang, tanpa tersentuh indra kehangatanmu sama sekali..
segalanya, masih teringat jelas.
kemudian malam itu
ketika tangan-tangan asing wartawan
menarik…
mendorong…
memperlakukanmu seolah akan melumat habis dirimu
panas hati kami,
panas jiwa-jiwa kami, ayah..
nafas kami tercekat seakan terhenti sejenak
mata kami terbelalak, namun tetap airmata kami tahan
sengaja tak kami biarkan ia jatuh..
tubuh kami terkaku namun tetap memaksa telinga kami mendengar jernih apa yang mereka tuduhkan kepadamu
kasus suap??
itukah yang merekah tuduhkan?
habiskah akal mereka menuduhkan itu padamu?
tidakkah mereka tau?
detik ketika mereka tidur terlelap menikmati waktu istirahatnya
kau justru baru memulai rapat kesekianmu untuk membersihkan
korupsi, kolusi, nepotisme
yang mereka bilang mereka benci?
tidakkah mereka tau?
ketika mereka asik bermimpi,
terlelap dalam mimpi indahnya
mimpi tentang Negara Republik Indonesia
yang bersih
jauuuuh dari kenistaan dan kemarukan petinggi-petingginya
kala itu kau bekerja keras untuk membuat itu terjadi?
menjadikan itu tidak hanya sebatas mimpi
menjadikan mimpi mereka menjadi realiti,
kenyataan
tidakkah mereka tau?
ketika kata jihad masih sebuah teori bagi mereka
hanya sebatas angan semata,
kau sudah jauh habiskan waktumu,
jiwamu,
fikiranmu,
hartamu untuk itu..
ketika jihad masih menjadi cita-cita bagi kami
kau seakan jauh
jauuuuuuh telah meninggalkan kami…
tidakkah mereka tau?
ketika mereka menggerutu atas kelelahan mereka
mengeluh atas kesibukan dunia mereka
engkau, ayah
ayah kami ini
dengan senyuman hangat dan setengah mata menahan lelahnya
membukakan pintu rumahnya
menerima setiap gerutu tamunya
kekhawatiran tamunya
keluh kesahnya..
kebutuhannya..
kemudian memberinya solusi
tanpa sedetikpun
tanpa sejenak saja ia menoleh kepada istirahatnya
Kepada hak tubuhnya..
sekarang mereka tuduhkan itu kepadamu ayah?
telingakukah yang salah?
Jangan.. Ayah..
jangan ragu untuk memanggil kami ayah..
bawa jiwa-raga kami bersaksi atas jihadmu yang nyata
karna tak secuilpuun hati kami percaya apa kata mereka
apa tuduhan mereka
apa fitnah mereka ayah..
takkan pernah kami percaya
takkan pernah..
kami tidakkan diam menangisimu ayah
kami akan tetap melangkah
melanjutkan langkah jihadmu
tak peduli sekerdil apapun kami
kami tidak akan malu dan menundukkan kepala kami ayah..
kami akan buktikan bahwa semangat kami takkan kalah dari semangatmu
akan kami tunjukkan
akan kami renggut kembali engkau kembali ke langkah jihadmu, ayah..
jangan engkau khawatirkan kami, ayah..
karna sebagaimana Allah SWT bersamamu
Ia juga bersama langkah-langkah kami..
doa kami selalu untukmu ayah..
tetaplah tenang dan tersenyum di sana
tetaplah pancarkan tatapan penuh semangatmu..
penghidup semangat tinggi kami,,
tetaplah tersenyum Ayah
hingga kau kembali ke dekapan kami…
Karya: Putra-Putri Luthfi Hasan Ishaaq
Anak-anak adalah anak-anak. Mereka adalah cermin sebuah kejujuran dan ketulusan dari sekelilingnya. Kasus yang tengah menimpa Luthfi Hasan Ishaaq, mantan Presiden PKS, yang asalnya soal suap daging sapi dan sekarang berubah menjadi TPPU (pencucian uang), jelas berpengaruh kepada anak-anak beliau. Selama hampir dua bulan setengah, mereka tidak berjumpa dengan ayahnya. Maklum, sekarang ini LHI, begitu biasa Luthfi dipanggil, tengah ditahan di Rutan Guntur, Jakarta. Memang, ada juga kunjungan di waktu-waktu tertentu, namun itu tentu tidak cukup mengobati kerinduan mereka terhadap ayah tercinta.
LHI mempunyai putra 13 orang. Syair di atas adalah puisi yang ditulis oleh anak-anaknya, dan kemudian dibacakan di acara Milad PKS di Semarang, pekan lalu, 18-19 April 2013. (Sumber: IslamPos.Com)
by :
admin

Tersebutlah kisah seorang ‘alim yang taat beribadah. Karena ‘alimnya, dia tidak pernah bermaksiyat selama 200 tahun. Berkat ibadah dan kealimannya, 9.000 muridnya dapat berjalan di atas bumi. Para malaikat pun kagum terhadap hamba Allah yang satu ini.
Tetapi, apa kata Allah SWT atas kekaguman malaikat kepada hamba-Nya yang bernama Barshisha, “Apa yang kau herankan daripadanya. Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Dan sesungguhnya, Barshisha ada dalam pengetahuan-Ku. Di akhir hayat Barshisha yang terkenal alim itu berbalik menjadi kafir dan masuk neraka selama-lamanya hanya karena minum khamr,” kata Allah SWT.
Mendengar perkataan Allah SWT, iblis merasa menemukan kunci kelemahan Barshisha. Dan, bukanlah iblis jika dia tiada menggoda manusia agar menjadi temannya di neraka kelak. Maka datanglah iblis ke tempat peribadatan Barshisha dengan menyamar sebagai seorang yang alim dengan mengenakan pakain zuhudnya berupa kain tenun.
“Siapa engkau ini dan apa maumu?” tanya Barshisha. “Aku adalah hamba Allah yang datang untuk menolongmu dalam rangka mengabdi dan menyembah Allah,” jawab iblis. “Siapa yang hendak berbakti dan beribadah kepada Allah, cukuplah Allah yang menolongnya dan bukan engkau,” jawab Barshisha dengan hati yang masih tegar.
Melihat mangsanya begitu tegar pendiriannya, iblis mengambil jurus yang lain. Selama tiga hari tiga malam, iblis menyembah Allah tanpa makan, minum, dan tidur. Melihat tamunya beribadah sekhusuk itu, hati Barshisha mulai goyah. Barshisha kagum atas kekhusyukan tamunya yang terus menerus beribadah tiga hari tiga malam tanpa tidur, makan, dan minum sedikitpun.
“Padahal yang sealim ini tetap makan, minum, dan tidur bila beribadah kepada Allah,” sebuah suara mengusik hatinya. Didorong rasa ingin tahu, Barshisha lalu bertanya kepada tamunya bagaimana dia dapat beribadah seperti itu.
“Aku pernah berbuat dosa. Dan bila teringat akan dosaku, aku menjadi tidak bisa makan dan tidur,” ujar iblis yang berlagak alim. “Bagaimana agar aku dapat beribadah seperti kamu ?” desak Barshisha yang mulai terpikat taktik iblis. Kepada mangsanya, iblis lalu menyarankan agar Barshisha sekali waktu berbuat maksiyat kepada Allah, kemudian bertaubat. Dengan begitu dapat merasakan kenikmatan beribadah setelah mengenang dosanya.
Bujukan iblis mulai termakan Barshisha. Benteng imannya yang terakhir mulai goyah. “Apa yang harus aku kerjakan ?” desak Barshisha. “Berzina,” jawab iblis tegas. “Itu tidak mungkin. Aku tidak akan melakukan perbuatan maksiyat yang dosa besar itu,” jawabnya. “Jika tidak mau, membunuh orang saja, atau minum khamr yang dosanya lebih ringan, “ujar iblis. “Aku pilih minum khmar saja, tetapi dimana aku mendapatkannya,” desak Barshisha yang mulai termakan bujukan iblis. “Pergilah ke desa ini,” jawab iblis menunjukkan nama dan tempat desa yang dimaksud.
Atas saran iblis laknatullah, Barshisha pergi menuju desa yang dimaksud. Disana Barshisha bertemu seorang perempuan cantik yang menjual khmar. Barshisha membelinya dan langsung meneguknya. Karena tidak biasa, Barshisha kehilangan kesadaran. Dengan bernafsu, Barshisha memaksa penjual khamr untuk berzina. Saat Barshisha memaksa perempuan itu, suaminya memergokinya. Barshisha panik, suami perempuan itu dipukulnya hingga mati.
Iblis melaporkan peristiwa itu ke pengadilan dengan Barshisha sebagai terdakwa. Oleh pengadilan, Barshisha dijatuhi hukuman cambuk 80 kali sebagai hukuman minuman khamr, 100 kali cambukan atas hukuman berbuat zina. Bukan itu saja, Barshisha pun divonis hukuman gantung sebagai ganti memukul suami perempuan penjual khamr.
Saat Barshisha digantung, iblis menghampirinya, “Bagaimana keadaanmu Barshisha?”. “Siapa yang mengikuti orang jahat, beginilah akibatnya,” jawab Barshisha. “Aku telah berupaya 200 tahun untuk menggodamu sampai berhasil. Hari ini engkau digantung, bila engkau ingin turun, aku dapat menolongmu. Tetapi dengan syarat, sujudlah kepadaku,” ujar iblis. Barshisha yang sudah mulai putus asa menjawab, “Bagaimana aku dapat bersujud kepadamu, sedang tubuhku dalam gantungan.” “Tidak perlu susah payah, cukup engkau bersujud dan beriman kepadaku dalam hati,” kata iblis menegaskan. Maka bersujudlah Barshisha dalam hatinya kepada iblis. Matilah Barshisha dalam kekafiran menyembah iblis laknatullah.
Begitulah kisah seorang alim yang diakhir hidupnya dihinggapi rasa putus asa sehingga terbujuk rayuan iblis. Setelah berbuat dosa, seharusnya Barshisha bertaubat kepada Allah SWT atas semua dosanya. Tetapi, Barshisha karena rasa putus asa yang menderanya, Barshisha lupa kepada rahmat Allah yang akan mengampuni dan memberikan pertolongan bagi siapa saja yang mau bertaubat. [oman]

Tersebutlah kisah seorang ‘alim yang taat beribadah. Karena ‘alimnya, dia tidak pernah bermaksiyat selama 200 tahun. Berkat ibadah dan kealimannya, 9.000 muridnya dapat berjalan di atas bumi. Para malaikat pun kagum terhadap hamba Allah yang satu ini.
Tetapi, apa kata Allah SWT atas kekaguman malaikat kepada hamba-Nya yang bernama Barshisha, “Apa yang kau herankan daripadanya. Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Dan sesungguhnya, Barshisha ada dalam pengetahuan-Ku. Di akhir hayat Barshisha yang terkenal alim itu berbalik menjadi kafir dan masuk neraka selama-lamanya hanya karena minum khamr,” kata Allah SWT.
Mendengar perkataan Allah SWT, iblis merasa menemukan kunci kelemahan Barshisha. Dan, bukanlah iblis jika dia tiada menggoda manusia agar menjadi temannya di neraka kelak. Maka datanglah iblis ke tempat peribadatan Barshisha dengan menyamar sebagai seorang yang alim dengan mengenakan pakain zuhudnya berupa kain tenun.
“Siapa engkau ini dan apa maumu?” tanya Barshisha. “Aku adalah hamba Allah yang datang untuk menolongmu dalam rangka mengabdi dan menyembah Allah,” jawab iblis. “Siapa yang hendak berbakti dan beribadah kepada Allah, cukuplah Allah yang menolongnya dan bukan engkau,” jawab Barshisha dengan hati yang masih tegar.
Melihat mangsanya begitu tegar pendiriannya, iblis mengambil jurus yang lain. Selama tiga hari tiga malam, iblis menyembah Allah tanpa makan, minum, dan tidur. Melihat tamunya beribadah sekhusuk itu, hati Barshisha mulai goyah. Barshisha kagum atas kekhusyukan tamunya yang terus menerus beribadah tiga hari tiga malam tanpa tidur, makan, dan minum sedikitpun.
“Padahal yang sealim ini tetap makan, minum, dan tidur bila beribadah kepada Allah,” sebuah suara mengusik hatinya. Didorong rasa ingin tahu, Barshisha lalu bertanya kepada tamunya bagaimana dia dapat beribadah seperti itu.
“Aku pernah berbuat dosa. Dan bila teringat akan dosaku, aku menjadi tidak bisa makan dan tidur,” ujar iblis yang berlagak alim. “Bagaimana agar aku dapat beribadah seperti kamu ?” desak Barshisha yang mulai terpikat taktik iblis. Kepada mangsanya, iblis lalu menyarankan agar Barshisha sekali waktu berbuat maksiyat kepada Allah, kemudian bertaubat. Dengan begitu dapat merasakan kenikmatan beribadah setelah mengenang dosanya.
Bujukan iblis mulai termakan Barshisha. Benteng imannya yang terakhir mulai goyah. “Apa yang harus aku kerjakan ?” desak Barshisha. “Berzina,” jawab iblis tegas. “Itu tidak mungkin. Aku tidak akan melakukan perbuatan maksiyat yang dosa besar itu,” jawabnya. “Jika tidak mau, membunuh orang saja, atau minum khamr yang dosanya lebih ringan, “ujar iblis. “Aku pilih minum khmar saja, tetapi dimana aku mendapatkannya,” desak Barshisha yang mulai termakan bujukan iblis. “Pergilah ke desa ini,” jawab iblis menunjukkan nama dan tempat desa yang dimaksud.
Atas saran iblis laknatullah, Barshisha pergi menuju desa yang dimaksud. Disana Barshisha bertemu seorang perempuan cantik yang menjual khmar. Barshisha membelinya dan langsung meneguknya. Karena tidak biasa, Barshisha kehilangan kesadaran. Dengan bernafsu, Barshisha memaksa penjual khamr untuk berzina. Saat Barshisha memaksa perempuan itu, suaminya memergokinya. Barshisha panik, suami perempuan itu dipukulnya hingga mati.
Iblis melaporkan peristiwa itu ke pengadilan dengan Barshisha sebagai terdakwa. Oleh pengadilan, Barshisha dijatuhi hukuman cambuk 80 kali sebagai hukuman minuman khamr, 100 kali cambukan atas hukuman berbuat zina. Bukan itu saja, Barshisha pun divonis hukuman gantung sebagai ganti memukul suami perempuan penjual khamr.
Saat Barshisha digantung, iblis menghampirinya, “Bagaimana keadaanmu Barshisha?”. “Siapa yang mengikuti orang jahat, beginilah akibatnya,” jawab Barshisha. “Aku telah berupaya 200 tahun untuk menggodamu sampai berhasil. Hari ini engkau digantung, bila engkau ingin turun, aku dapat menolongmu. Tetapi dengan syarat, sujudlah kepadaku,” ujar iblis. Barshisha yang sudah mulai putus asa menjawab, “Bagaimana aku dapat bersujud kepadamu, sedang tubuhku dalam gantungan.” “Tidak perlu susah payah, cukup engkau bersujud dan beriman kepadaku dalam hati,” kata iblis menegaskan. Maka bersujudlah Barshisha dalam hatinya kepada iblis. Matilah Barshisha dalam kekafiran menyembah iblis laknatullah.
Begitulah kisah seorang alim yang diakhir hidupnya dihinggapi rasa putus asa sehingga terbujuk rayuan iblis. Setelah berbuat dosa, seharusnya Barshisha bertaubat kepada Allah SWT atas semua dosanya. Tetapi, Barshisha karena rasa putus asa yang menderanya, Barshisha lupa kepada rahmat Allah yang akan mengampuni dan memberikan pertolongan bagi siapa saja yang mau bertaubat. [oman]
by :
admin

Iman adalah kekuatan yang memelihara seseorang dari dunia dan mendorongnya mencapai kemulian. Oleh karena itu ketika Allah menyeru kepada hamba-Nya menuju kebaikan atau mewanti-wantinya tidak melakukan kejahatan. Allah menjadikan sebagai konsekuensi keimanan yang kokoh tertancap di dalam hati mereka.
يَـاَ يُهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُواْاتَّقُواْاللهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّدقِيْنَ
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At Taubah : 119)
Keimanan yang kuat akan melahirkan akhlak yang kuat pula dan kemorosatan akhlak disebabkan oleh lemahnya keimanan atau kehilangan keimanan.
الـحَيَاءُ وَالإٍيْـمَانُ قُـرَنَـاءُ جَمِيْعًا فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُـمَا رُفِـعَ الآخَرُ
“Rasa malu dan keimanan saling terkait satu sama lainnya. Jika salah satunya hilang, hilang pula yang lain.” (HR. Hakim dan Thabrani)
Orang yang menyakiti tetangganya dan selalu mengatakan hal-hal buruk kepada mereka, islam memberi penilaian kepadanya sebagai suatu kekerasan.
و اللهِ لاَ يُـوْ مِنُ ، و اللهِ لاَ يُـوْ مِنُ ، و اللهِ لاَ يُـوْ مِنُ . قِـيْلَ : مَنْ يَـا رَسُـوْلُ اللهِ ؟ قَـالَ : أَلـَّذِي لاَ يَـأْمَنُ جَـارُهُ بَـوَئِقَهُ
“Demi Allah dia tidak beriman, demi Allah dia tidak beriman, demi Allah dia tidak beriman.” Ada yang bertanya, “Siapa ya Rasulullah ?” Rasulullah SAW menjawab, “Orang yang apabila tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya.” (HR. Bukhari)
Nabipun dengan tegas mengatakan kita akan masuk nerakanya, walaupun kita rajin shalat, rajin puasa sunah, dan bersedekah tetapi disisi lain kita menyakiti tetangga. Seperti yang terdapat dalam hadits ketika seseorang berkata kepada beliau,
“Ya Rasulullah, si fulanah itu diceriatakan banyak shalatnya, puasanya, dan sedekahnya. Hanya saja ia sering menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Rasulullah menjawab, “Wanita itu ada di neraka.” Lalu orang itu berkata lagi, “Ya Rasulullah, si fulanah itu sedikit shalatnya, puasanya, dan sedekahnya. Ia hanya bersedekah dengan sepotong keju saja, namun tidak menyakiti tetangganya.” Rasulullah menjawab, “Wanita itu berada di surga.”
Penegasan jawaban Rasulullah SAW bahwa sedekah adalah ibadah sosial yang manfaatnya merembet kepada orang lain. Oleh karena itu sisi kuantitasnya berbeda dengan ibadah shalat dan puasa, yang secara lahir merupakan ibadah pribadi.
Beliau pun perlu menjelaskan kepada kita, hubungan antara akhlak dan keimanan yang sesungguhnya dan ibadah yang benar lalu menjadikannya sebagai asas kebaikan dunia dan akhirat.
Permasalahan akhlak lebih penting dari itu semua. Bahwa iman, kebaikan, dan akhlak adalah komponen yang netral dan saling terkait. Tidak ada orang yang dapat memisahkannya.
Pada suatu hari beliau pernah bertanya kepada pada sahabat, “Tahukan kalian siapa orang yang bangkrut?” Mereka menjawab, “Orang bangkrut menurut kami adalah yang tidak punya dirham dan harta benda.” Rasulullah bersabda, “Orang bangkrut di kalangan umatku adalah seseorang yang datang pada hari kiamat nanti dengan shalat, zakat, dan puasanya. Ia datang pada hari itu dan sebelumnya pernah mencaci si ini, menuduh si ini, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini, dan memukul ini. Maka yang ini diberi kebaikannya (shalatnya, puasanya, zakatnya) dan itu dari kebaikannya (ibadahnya). Jika kebaikannya sudah habis sebelum melunasi tanggungannya, diambillah dari kesalahan mereka dan dilemparkan kepadanya. Lalu orang itu dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)
Itulah orang yang bangkrut. Seperti seorang pedagang yang memiliki dagangan di tokonya senilai seribu. Sementara ia punya hutang senilai dua ribu. Bagaimana mungkin orang malang ini menjadi kaya?
Jika keburukan berkembang dalam diri, bahayanya menyebar dan risikonya mengganas. Seseorang bisa terlepas dari agamanya sebagaimana orang telanjang terlepas dari pakaiannya.

Iman adalah kekuatan yang memelihara seseorang dari dunia dan mendorongnya mencapai kemulian. Oleh karena itu ketika Allah menyeru kepada hamba-Nya menuju kebaikan atau mewanti-wantinya tidak melakukan kejahatan. Allah menjadikan sebagai konsekuensi keimanan yang kokoh tertancap di dalam hati mereka.
يَـاَ يُهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُواْاتَّقُواْاللهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّدقِيْنَ
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At Taubah : 119)
Keimanan yang kuat akan melahirkan akhlak yang kuat pula dan kemorosatan akhlak disebabkan oleh lemahnya keimanan atau kehilangan keimanan.
الـحَيَاءُ وَالإٍيْـمَانُ قُـرَنَـاءُ جَمِيْعًا فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُـمَا رُفِـعَ الآخَرُ
“Rasa malu dan keimanan saling terkait satu sama lainnya. Jika salah satunya hilang, hilang pula yang lain.” (HR. Hakim dan Thabrani)
Orang yang menyakiti tetangganya dan selalu mengatakan hal-hal buruk kepada mereka, islam memberi penilaian kepadanya sebagai suatu kekerasan.
و اللهِ لاَ يُـوْ مِنُ ، و اللهِ لاَ يُـوْ مِنُ ، و اللهِ لاَ يُـوْ مِنُ . قِـيْلَ : مَنْ يَـا رَسُـوْلُ اللهِ ؟ قَـالَ : أَلـَّذِي لاَ يَـأْمَنُ جَـارُهُ بَـوَئِقَهُ
“Demi Allah dia tidak beriman, demi Allah dia tidak beriman, demi Allah dia tidak beriman.” Ada yang bertanya, “Siapa ya Rasulullah ?” Rasulullah SAW menjawab, “Orang yang apabila tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya.” (HR. Bukhari)
Nabipun dengan tegas mengatakan kita akan masuk nerakanya, walaupun kita rajin shalat, rajin puasa sunah, dan bersedekah tetapi disisi lain kita menyakiti tetangga. Seperti yang terdapat dalam hadits ketika seseorang berkata kepada beliau,
“Ya Rasulullah, si fulanah itu diceriatakan banyak shalatnya, puasanya, dan sedekahnya. Hanya saja ia sering menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Rasulullah menjawab, “Wanita itu ada di neraka.” Lalu orang itu berkata lagi, “Ya Rasulullah, si fulanah itu sedikit shalatnya, puasanya, dan sedekahnya. Ia hanya bersedekah dengan sepotong keju saja, namun tidak menyakiti tetangganya.” Rasulullah menjawab, “Wanita itu berada di surga.”
Penegasan jawaban Rasulullah SAW bahwa sedekah adalah ibadah sosial yang manfaatnya merembet kepada orang lain. Oleh karena itu sisi kuantitasnya berbeda dengan ibadah shalat dan puasa, yang secara lahir merupakan ibadah pribadi.
Beliau pun perlu menjelaskan kepada kita, hubungan antara akhlak dan keimanan yang sesungguhnya dan ibadah yang benar lalu menjadikannya sebagai asas kebaikan dunia dan akhirat.
Permasalahan akhlak lebih penting dari itu semua. Bahwa iman, kebaikan, dan akhlak adalah komponen yang netral dan saling terkait. Tidak ada orang yang dapat memisahkannya.
Pada suatu hari beliau pernah bertanya kepada pada sahabat, “Tahukan kalian siapa orang yang bangkrut?” Mereka menjawab, “Orang bangkrut menurut kami adalah yang tidak punya dirham dan harta benda.” Rasulullah bersabda, “Orang bangkrut di kalangan umatku adalah seseorang yang datang pada hari kiamat nanti dengan shalat, zakat, dan puasanya. Ia datang pada hari itu dan sebelumnya pernah mencaci si ini, menuduh si ini, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini, dan memukul ini. Maka yang ini diberi kebaikannya (shalatnya, puasanya, zakatnya) dan itu dari kebaikannya (ibadahnya). Jika kebaikannya sudah habis sebelum melunasi tanggungannya, diambillah dari kesalahan mereka dan dilemparkan kepadanya. Lalu orang itu dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)
Itulah orang yang bangkrut. Seperti seorang pedagang yang memiliki dagangan di tokonya senilai seribu. Sementara ia punya hutang senilai dua ribu. Bagaimana mungkin orang malang ini menjadi kaya?
Jika keburukan berkembang dalam diri, bahayanya menyebar dan risikonya mengganas. Seseorang bisa terlepas dari agamanya sebagaimana orang telanjang terlepas dari pakaiannya.
by :
admin

Eksistensi iblis dan keberadaan setan bagi Bani Adam jelas-jelas telah dinyatakan Allah sebagai musuh bagi orang-orang beriman yang harus dilawan dengan kekuatan iman dan ihsan.
Sebagai mukmin yang dituntut merealisasikan keimanannya dalam keseharian, mau tidak mau harus berhadapan dengan kenyataan setan yang tidak pernah tinggal diam dalam memperdayakan umat manusia.
Tipisnya keimanan seseorang akan semakin dekat dengan setan. Sebaliknya, semakin tebal keimanan seseorang, akan semakin dimusuhi setan, dan menjadikan setan sebagai musuh bebuyutan.
“Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh nyata bagi kalian.” (QS. 2:168)
Klasifikasi Bani Adam yang menjadi musuh setan, berdasarkan dialog Rasulullah SAW dengan setan laknatullah diantaranya ialah :
1. Orang berilmu yang mengamalkan ilmunya
Jangan aneh jika nasib ‘ulama yang istiqomah akan ke’aliman dan ilmunya seringkali harus menerima kenyataan pahit dengan segala godaan, oleh kekejaman politik atau kezholiman manusia-manusia setan.
2. Orang yang tunduk dan patuh pada kebenaran
Pada lazimnya manusia bukan tidak tahu akan kebenaran, tapi ia tidak mau tahu kebenaran. Bahkan, Naudzubillah adalah slogan yang haram saja susah apalagi yang halal, pada ia tahu antara kebenaran dan kebathilan.
3. Pemuda yang tekun beribadah dan taat kepada Allah SWT
Terasa asing ketika ada pemuda-pemuda yang tekun beribadah karena saat ini, pemuda-pemuda menghabiskan masa mudanya dengan kemanjaan dan foya-foya. Slogan mereka : masa muda bersenang-senang, tua kaya dan bahagia, mati masuk surga. Begitu dangkalnya pemikiran mereka padahal surga dan kebahagian itu hanya bisa diraih dengan ketaatan dan bekerja sungguh-sungguh.
4. Orang yang senantiasa menasehati orang lain dengan keikhlasan
Derasnya bujuk rayu setan melalui ghuzwul fikrinya yang menyerang umat islam, sehingga umat islam banyak namun laksana buih di lautan. Tetapi, dengan semakin derasnya bujuk rayu setan, ada juga orang-orang yang mengajak dan menasehati saudaranya. Mereka menjadi ustadz dan tauladan bagi masyarakatnya, walau kadang mereka difitnah dan diteror oleh setan-setan manusia.
5. Orang yang penuh keyakinan dan harapan akan jaminan Allah
Mereka tidak takut kelaparan pada saat terhimpit ekonomi, walau godaan datang dari kanan dan kiri, atau setan yang merayu silih berganti, mereka tidak tergelincir akan godaan harta, tahta, dan wanita karena mereka orang-orang yang loyal kepada Allah SWT. [oman]

Eksistensi iblis dan keberadaan setan bagi Bani Adam jelas-jelas telah dinyatakan Allah sebagai musuh bagi orang-orang beriman yang harus dilawan dengan kekuatan iman dan ihsan.
Sebagai mukmin yang dituntut merealisasikan keimanannya dalam keseharian, mau tidak mau harus berhadapan dengan kenyataan setan yang tidak pernah tinggal diam dalam memperdayakan umat manusia.
Tipisnya keimanan seseorang akan semakin dekat dengan setan. Sebaliknya, semakin tebal keimanan seseorang, akan semakin dimusuhi setan, dan menjadikan setan sebagai musuh bebuyutan.
“Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh nyata bagi kalian.” (QS. 2:168)
Klasifikasi Bani Adam yang menjadi musuh setan, berdasarkan dialog Rasulullah SAW dengan setan laknatullah diantaranya ialah :
1. Orang berilmu yang mengamalkan ilmunya
Jangan aneh jika nasib ‘ulama yang istiqomah akan ke’aliman dan ilmunya seringkali harus menerima kenyataan pahit dengan segala godaan, oleh kekejaman politik atau kezholiman manusia-manusia setan.
2. Orang yang tunduk dan patuh pada kebenaran
Pada lazimnya manusia bukan tidak tahu akan kebenaran, tapi ia tidak mau tahu kebenaran. Bahkan, Naudzubillah adalah slogan yang haram saja susah apalagi yang halal, pada ia tahu antara kebenaran dan kebathilan.
3. Pemuda yang tekun beribadah dan taat kepada Allah SWT
Terasa asing ketika ada pemuda-pemuda yang tekun beribadah karena saat ini, pemuda-pemuda menghabiskan masa mudanya dengan kemanjaan dan foya-foya. Slogan mereka : masa muda bersenang-senang, tua kaya dan bahagia, mati masuk surga. Begitu dangkalnya pemikiran mereka padahal surga dan kebahagian itu hanya bisa diraih dengan ketaatan dan bekerja sungguh-sungguh.
4. Orang yang senantiasa menasehati orang lain dengan keikhlasan
Derasnya bujuk rayu setan melalui ghuzwul fikrinya yang menyerang umat islam, sehingga umat islam banyak namun laksana buih di lautan. Tetapi, dengan semakin derasnya bujuk rayu setan, ada juga orang-orang yang mengajak dan menasehati saudaranya. Mereka menjadi ustadz dan tauladan bagi masyarakatnya, walau kadang mereka difitnah dan diteror oleh setan-setan manusia.
5. Orang yang penuh keyakinan dan harapan akan jaminan Allah
Mereka tidak takut kelaparan pada saat terhimpit ekonomi, walau godaan datang dari kanan dan kiri, atau setan yang merayu silih berganti, mereka tidak tergelincir akan godaan harta, tahta, dan wanita karena mereka orang-orang yang loyal kepada Allah SWT. [oman]
by :
admin

Allah SWT tidak cukup menyebut ummat Islam sebagai ummat pilihan (khoiru ummah) semata. Tetapi, Allah juga menyebutkan salah satu argumentasi mengapa ummat Islam dikatakan sebagai ummat pilihan, yaitu lantaran ummat Islam adalah ummatan wasathan (ummat pertengahan).
“Dan demikianlah, Kami jadikan kalian sebagai ummat pertengahan, agar kalian menjadi saksi bagi manusia, dan Rasul menjadi saksi atas kalian.” (QS. Al Baqarah : 143)
Sayyid Qutub mencoba menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan predikat ummat Islam sebagai ummat pertengahan. Menurutnya, diantara faktor-faktor yang menempatkan ummat Islam sebagai ummatan wasathan diantara ummat lainnya, adalah :
1. Ummat pertengahan dalam masalah keyakinan (aqidah) dan tashawur (pandangan). Ummat Islam tidak sekedar menekankan kehidupannya pada aspek rohani, juga tidak semata-mata kehidupannya pada aspek material belaka. Ummat Islam memandang keduanya sebagai suatu rancang bangunan yang satu dan yang lainnya saling terkait. Tashawur Islam memandang kehidupan material dan spiritual sebagai bagian integral fitrah insaniah. Karena itu tashawur Islam dalam hal ini hanyalah sekedar mengikuti fitrah yang tercermin dalam ruh dan jasad.
2. Ummat pertengahan dalam segi pikiran dan perasaan. Ummat Islam menempatkan pikiran dan perasaan pada tempatnya yang cocok. Islam tidak memandang pemikiran di atas perasaan atau sebaliknya, serta tidak juga melalui penekanan akal dengan menafikan rasa. Islam juga tidak mengutamakan perasaan dengan mengabaikan akal pikiran. Islam menempatkan keduanya secara proporsional. Demikian pula ummat Islam tidak terpaku pada hal-hal yang sudah diketahui saja, namun juga membuka pintu lebar-lebar bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Walaupun, dalam waktu yang bersamaan menolak keras segala bentuk Tahayyul, Bid’ah, dan Khurafat.
3. Ummat pertengahan dalam tandzim (pengorganisasian) dan tansiq (koordinasi). Tidak menyerahkan segala urusan pada perasaan dan selera belaka, tetapi juga tidak meletakkannya bulat-bulat pada undang-undang semata. Ia memadukan antara selera dan perasaan manusia dengan undang-undang. Ia mengangkat hati nurani manusia tinggi-tinggi dengan memberikan pengarahan dan pembinaan, dan disisi lain menjamin keberadaan sistem masyarakat melalui undang-undang. Membiarkan manusia hidup sekedar dipandu selera dan perasaannya, akan menggoyahkan sendi-sendi sosial. Semantara, memaksa manusia mentaati undang-undang belaka dengan menafikan nurani akan menghasilkan situasi tertekan dan teraniaya. Islam memandang undang-undang dan nurani sebagai dua hal yang saling melengkapi dan menyempurnakan.
4. Ummat pertengahan dalam interaksi antar manusia dan saling keterkaitan satu dengan yang lainnya. Tidak hanya menonjolkan identitas dan kepentingan individu, dengan mengabaikan identitas jama’ah dan negara. Dan tidak juga sekedar menekankan kepentingan jama’ah dan negara sembari membabat habis identitas pribadi. Islam tidak membiarkan kebebasan individu berubah menjadi watak egoistis, juga tidak sudi kekuasaan jama’ah dan negara berubah jadi otoriter dan tirani. Akan tetapi, Islam menempatkan kepentingan individu dan masyarakat pada posisinya masing-masing, untuk saling menghidupkan dan menggairahkan kehidupan manusia. Koordinasi dan kerjasama yang baik antara kepentingan individu dan masyarakat merupakan ciri khas ummat Islam yang tidak dimiliki ummat lain.
5. Ummat pertengahan dalam zaman. Ummat Islam mengakhiri masa kanak-kanak generasi ummat manusia sebelumnya, dan mencapai kematangan intelektual sesudah fase tersebut. Pada masa kehadiran ummat Islam, pengikut Rasulullah SAW inilah kematangan psikis, intelektual dan moral manusia mencapai puncaknya. Sedangkan masa sebelumnya adalah fase pembentukan dan proses yang belum tuntas. [oman]

Allah SWT tidak cukup menyebut ummat Islam sebagai ummat pilihan (khoiru ummah) semata. Tetapi, Allah juga menyebutkan salah satu argumentasi mengapa ummat Islam dikatakan sebagai ummat pilihan, yaitu lantaran ummat Islam adalah ummatan wasathan (ummat pertengahan).
“Dan demikianlah, Kami jadikan kalian sebagai ummat pertengahan, agar kalian menjadi saksi bagi manusia, dan Rasul menjadi saksi atas kalian.” (QS. Al Baqarah : 143)
Sayyid Qutub mencoba menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan predikat ummat Islam sebagai ummat pertengahan. Menurutnya, diantara faktor-faktor yang menempatkan ummat Islam sebagai ummatan wasathan diantara ummat lainnya, adalah :
1. Ummat pertengahan dalam masalah keyakinan (aqidah) dan tashawur (pandangan). Ummat Islam tidak sekedar menekankan kehidupannya pada aspek rohani, juga tidak semata-mata kehidupannya pada aspek material belaka. Ummat Islam memandang keduanya sebagai suatu rancang bangunan yang satu dan yang lainnya saling terkait. Tashawur Islam memandang kehidupan material dan spiritual sebagai bagian integral fitrah insaniah. Karena itu tashawur Islam dalam hal ini hanyalah sekedar mengikuti fitrah yang tercermin dalam ruh dan jasad.
2. Ummat pertengahan dalam segi pikiran dan perasaan. Ummat Islam menempatkan pikiran dan perasaan pada tempatnya yang cocok. Islam tidak memandang pemikiran di atas perasaan atau sebaliknya, serta tidak juga melalui penekanan akal dengan menafikan rasa. Islam juga tidak mengutamakan perasaan dengan mengabaikan akal pikiran. Islam menempatkan keduanya secara proporsional. Demikian pula ummat Islam tidak terpaku pada hal-hal yang sudah diketahui saja, namun juga membuka pintu lebar-lebar bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Walaupun, dalam waktu yang bersamaan menolak keras segala bentuk Tahayyul, Bid’ah, dan Khurafat.
3. Ummat pertengahan dalam tandzim (pengorganisasian) dan tansiq (koordinasi). Tidak menyerahkan segala urusan pada perasaan dan selera belaka, tetapi juga tidak meletakkannya bulat-bulat pada undang-undang semata. Ia memadukan antara selera dan perasaan manusia dengan undang-undang. Ia mengangkat hati nurani manusia tinggi-tinggi dengan memberikan pengarahan dan pembinaan, dan disisi lain menjamin keberadaan sistem masyarakat melalui undang-undang. Membiarkan manusia hidup sekedar dipandu selera dan perasaannya, akan menggoyahkan sendi-sendi sosial. Semantara, memaksa manusia mentaati undang-undang belaka dengan menafikan nurani akan menghasilkan situasi tertekan dan teraniaya. Islam memandang undang-undang dan nurani sebagai dua hal yang saling melengkapi dan menyempurnakan.
4. Ummat pertengahan dalam interaksi antar manusia dan saling keterkaitan satu dengan yang lainnya. Tidak hanya menonjolkan identitas dan kepentingan individu, dengan mengabaikan identitas jama’ah dan negara. Dan tidak juga sekedar menekankan kepentingan jama’ah dan negara sembari membabat habis identitas pribadi. Islam tidak membiarkan kebebasan individu berubah menjadi watak egoistis, juga tidak sudi kekuasaan jama’ah dan negara berubah jadi otoriter dan tirani. Akan tetapi, Islam menempatkan kepentingan individu dan masyarakat pada posisinya masing-masing, untuk saling menghidupkan dan menggairahkan kehidupan manusia. Koordinasi dan kerjasama yang baik antara kepentingan individu dan masyarakat merupakan ciri khas ummat Islam yang tidak dimiliki ummat lain.
5. Ummat pertengahan dalam zaman. Ummat Islam mengakhiri masa kanak-kanak generasi ummat manusia sebelumnya, dan mencapai kematangan intelektual sesudah fase tersebut. Pada masa kehadiran ummat Islam, pengikut Rasulullah SAW inilah kematangan psikis, intelektual dan moral manusia mencapai puncaknya. Sedangkan masa sebelumnya adalah fase pembentukan dan proses yang belum tuntas. [oman]
by :
admin

Darah terus mengalir deras di Yarmuk. Terjadi perang besar antara kaum muslimin dengan kaum musyrikin tak terhindarkan lagi. Beberapa orang dari kum muslimin telah banyak yang terluka dan syahid.
Hudzaifah Al Adawi tak mampu menahan gejolak. Beliau menghamburkan diri ke medan jihad. Sebekum pedangnya diayunkan untuk menebas musuh-musuh Allah, Hudzaifah terlebih dahulu mengusung sebuah bejana yang berisi penuh air untuk membantu mengatasi kehausan prajurit Allah yang terluka.
Hudzaifah sambil mengawasi musuh, dengan bejananya menghampiri mujahid yang terluka untuk memberikan tetesan air. Tapi, mujahid itu menepiskan bejana air itu karena terdengar erangan memilukan diantara dentingan pedang yang beradu. Mujahid itu berkata “Bawalah air padanya. Aku tidaklah lebih mulia dari jiwa siapapun yang berjuang di jalan Allah”.
Hudzaifah menghampiri suara erangan tadi, ternyata Hisyam bin Al Ash. “Semoga Allah merahmati engkau, ya Hudzaifah,” sambutnya. Hudzaifah belum sempat mengangkat bejananya, Hisyam sudah menunjukkannya kepada salah seorang yang juga terluka. “Bawakan air itu padanya. Ia lebih membutuhkannya daripada aku,” pintanya.
Hudzaifah menuju orang yang terluka tadi. Tapi terlambat, ia telah dahulu syahid. Dengan sigap ia melompat menuju Hisyam bin Al Ash, tapi ternyata telah syahid juga. Begitu pula ketika ia sampai kepada orang yang pertama ditolongnya, ternyata telah berangkat keharibaan Ilahi.
Saat ini, keberanian Hudzifah dan kesediaan beberapa mujahid yang sekarat untuk mendahulukan keselamatan saudaranya seperti kasun asing. Kalaupun ada keberanian, itu biasanya muncul dari kekuatan yang bersumber dari pamrih duniawi.
Keberanian dan kepedulian seorang muslim terhadap saudaranya dalam perang Yarmuk, bukanlah sesuatu yang bersifat kecenderungan manusiawi semata. Dalam artian, kebaikan dan rasa pengorbanan yang mereka tunjukkan jelas berasal dari penyerahan dan pengamalan sungguh-sungguh terhadap Al Islam secara benar. Mereka meyakini kebenaran wahyu dengan pembenaran dalam hati dan melaksanakannya semaksimal mungkin dalam kehidupan nyata.
Persoalannya sekarang, pedulikah kita dengan cara dan sikap hidup seperti itu? Jika rasa kepedulian kita terusik, mampukah menunjukkannya dalam setiap persinggungan dengan seluruh piranti masyarakat dalam keadaan apapun?
Kemudian, meski kita mampu berbuat baik dan berkorban untuk sesama manusia, adalah bagaimana pekerjaan tersebut disamping bernilai baik disisi manusia tapi juga juga mulia disisi Allah, ada beberapa pijakan yang sering terlupaka;
Pertama, kita harus mengolah kepribadian agar dalam berbuat baik berdasarkan kebenaran iman. Segala bentuk pengorbanan seharusnya lahir dari i’tikad bahwa Allah menyuruh dan mengawasi segala perbuatan kita.
Kedua, berbuat baik dan bersedia berkorban dengan ketulusan niat hanya karena Allah. Hal ini menjadi sangat perlu dalam zaman kini. Karena banyak perbuatan baik menjadi sebuah kemasan tanpa perlu lagi melihat niat dari perbuatan itu. Banyak peristiwa pengorbanan yang dilakukan baik perorangan atau kolektif tiba-tiba menjadi sekedar sebuah peristiwa yang sengaja dikemas menjadi kepentingan-kepentingan sosial saja.
Ketiga, sikap ini harus lahir dari kesucian diri. Pijakan terakhir ini merupakan satu sendi yang kuat dalam perwujudan kebaikan bagi umat manusia. Apa arti sebuah pengorbanan kalau ia bersumber dari sumber yang sebenarnya Allah tidak menyukainya. Wallahu a’lam bish shawwab. [ar]

Darah terus mengalir deras di Yarmuk. Terjadi perang besar antara kaum muslimin dengan kaum musyrikin tak terhindarkan lagi. Beberapa orang dari kum muslimin telah banyak yang terluka dan syahid.
Hudzaifah Al Adawi tak mampu menahan gejolak. Beliau menghamburkan diri ke medan jihad. Sebekum pedangnya diayunkan untuk menebas musuh-musuh Allah, Hudzaifah terlebih dahulu mengusung sebuah bejana yang berisi penuh air untuk membantu mengatasi kehausan prajurit Allah yang terluka.
Hudzaifah sambil mengawasi musuh, dengan bejananya menghampiri mujahid yang terluka untuk memberikan tetesan air. Tapi, mujahid itu menepiskan bejana air itu karena terdengar erangan memilukan diantara dentingan pedang yang beradu. Mujahid itu berkata “Bawalah air padanya. Aku tidaklah lebih mulia dari jiwa siapapun yang berjuang di jalan Allah”.
Hudzaifah menghampiri suara erangan tadi, ternyata Hisyam bin Al Ash. “Semoga Allah merahmati engkau, ya Hudzaifah,” sambutnya. Hudzaifah belum sempat mengangkat bejananya, Hisyam sudah menunjukkannya kepada salah seorang yang juga terluka. “Bawakan air itu padanya. Ia lebih membutuhkannya daripada aku,” pintanya.
Hudzaifah menuju orang yang terluka tadi. Tapi terlambat, ia telah dahulu syahid. Dengan sigap ia melompat menuju Hisyam bin Al Ash, tapi ternyata telah syahid juga. Begitu pula ketika ia sampai kepada orang yang pertama ditolongnya, ternyata telah berangkat keharibaan Ilahi.
Saat ini, keberanian Hudzifah dan kesediaan beberapa mujahid yang sekarat untuk mendahulukan keselamatan saudaranya seperti kasun asing. Kalaupun ada keberanian, itu biasanya muncul dari kekuatan yang bersumber dari pamrih duniawi.
Keberanian dan kepedulian seorang muslim terhadap saudaranya dalam perang Yarmuk, bukanlah sesuatu yang bersifat kecenderungan manusiawi semata. Dalam artian, kebaikan dan rasa pengorbanan yang mereka tunjukkan jelas berasal dari penyerahan dan pengamalan sungguh-sungguh terhadap Al Islam secara benar. Mereka meyakini kebenaran wahyu dengan pembenaran dalam hati dan melaksanakannya semaksimal mungkin dalam kehidupan nyata.
Persoalannya sekarang, pedulikah kita dengan cara dan sikap hidup seperti itu? Jika rasa kepedulian kita terusik, mampukah menunjukkannya dalam setiap persinggungan dengan seluruh piranti masyarakat dalam keadaan apapun?
Kemudian, meski kita mampu berbuat baik dan berkorban untuk sesama manusia, adalah bagaimana pekerjaan tersebut disamping bernilai baik disisi manusia tapi juga juga mulia disisi Allah, ada beberapa pijakan yang sering terlupaka;
Pertama, kita harus mengolah kepribadian agar dalam berbuat baik berdasarkan kebenaran iman. Segala bentuk pengorbanan seharusnya lahir dari i’tikad bahwa Allah menyuruh dan mengawasi segala perbuatan kita.
Kedua, berbuat baik dan bersedia berkorban dengan ketulusan niat hanya karena Allah. Hal ini menjadi sangat perlu dalam zaman kini. Karena banyak perbuatan baik menjadi sebuah kemasan tanpa perlu lagi melihat niat dari perbuatan itu. Banyak peristiwa pengorbanan yang dilakukan baik perorangan atau kolektif tiba-tiba menjadi sekedar sebuah peristiwa yang sengaja dikemas menjadi kepentingan-kepentingan sosial saja.
Ketiga, sikap ini harus lahir dari kesucian diri. Pijakan terakhir ini merupakan satu sendi yang kuat dalam perwujudan kebaikan bagi umat manusia. Apa arti sebuah pengorbanan kalau ia bersumber dari sumber yang sebenarnya Allah tidak menyukainya. Wallahu a’lam bish shawwab. [ar]
by :
admin

Ustadz Muhammad Ridwan
Ruhul istijabah adalah sikap diri yang selalu siap siaga didalam menyambut seruan Alloh dan Rasulnya dalam setiap keadaan, baik ringan ataupun berat (hifafau watsiqola), dalam keadaan lapang atau pun sempit. Dan ruhul istijabah ini akan selalu hadir dalam jiwa manakala kita memiliki kekuatan keimanan (Quwwatul Iman), Tanpa kekuatan iman tubuh kita tak akan mendapatkan support untuk melaksanakan Ibadah dan ketaatan kepada Alloh SWT. jika ada orang yang dalam keadaan lemah iman masih tetap melaksanakan ibadah, dapat dipastikan bahwa ibadah yang dilakukannya tidak akan maksimal,atau mungkin karena terpaksa, atau karena ikut-ikutan, atau mungkin karena ada maksud lain yang tersembunyi didalam hati.
Ruhul istijabah juga berarti sikap reflektif yang muncul karena adanya idealisme dalam diri seseorang yang merindukan Kejayaan Islam , Sikap ini akan melahirkan Semangat dakwah ( Jiddiyah da’wiyah) yang begitu tinggi ,sehingga menggairahkan kader dakwah tersebut untuk mengorganisir kerja dakwahnya dalam bentuk kerja sama (amal jama’I) , membangun lembaga dakwah (wajihah) bahkan siap berkorban (Tadhiyah) demi suksesnya program-program dakwahnya. sikap seperti inilah yang terlihat ketika para sahabat Rasululoh mendengarkan surat ali imran : 92 dimana para sahabat saling berebut berinfaq dijalan Alloh swt bahkan menyerahkan segala apa yang mereka miliki demi menegakkan RisalahNya dimuka bumi.
لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan sebelum kamu menafkahkan sebagian dari harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesung¬guhnya Allah mengetahuinya.” (Q.s. Ali Imran: 92).
Sikap ini pula yang terlihat saat sahabat rasul yang bernama handzolah melompat dari tempat tidurnya karena mendengar instruksi jihad dikumandangkan, dengan gagah beraninya dia berkelebat menghunuskan pedangnya hingga mati menjadi syuhada . padahal disaat itu dia sedang menikmati indahnya malam pengantin bersama istri yang baru dinikahinya dipagi hari, dan diapun syahid dalam keadaan junub, tubuhnya basah kuyub padahal saat itu tiada setetespun air hujan turun kebumi, ternyata rasul menjadi saksi bahwa jenazah handzolah dimandikan oleh malaikat…. Subhanalloh
Begitu pula dengan Amr bin Jamuh, seorang sahabat Rasulullah yang memiliki empat orang putra yang kesemuanya adalah mujahid yang setia bersama Rasulullah dalam setiap peperangan. Ketika rencana perang badar telah digulirkan maka Amr telah berketetapan hati untuk menyambut seruan Rasulullah tersebut dengan mempersiapkan seluruh perbekalan. Tetapi keempat putranya memohon kepada Nabi agar ayahnya mengurungkan niatnya untuk berangkat atau bila terpaksa dengan larangan Nabi karena uzur syar’i yang dimiliki Amr, yaitu kaki yang pincang, sangat pincang. Nabi pun menyampaikan kepada Amr bahwa Islam membebaskan dirinya dari kewajiban perang, dengan alasan ketidakmampuan disebabkan cacat kakinya yang berat itu. Tetapi ia tetap memaksa dan minta diizinkan. Hingga akhirnya Rasulullah mengeluarkan perintah agar ia tetap tinggal di madinah.
Ketika panggilan jihad Uhud tiba, kali ini amr bin jamuh tidak dapat dihalangi lagi tekadnya untuk ikut serta berperang, dengan mengadu kepada Rasulullah tentang sikap anak-anaknya yang tidak mengijinkan beliau berangkat dengan berkata: “Wahai Rasulullah, anak-anakku menghalangiku untuk keluar bersamamu. Demi Allah, aku sungguh berharap mati syahid sehingga dengan kakiku yang pincang ini,aku dapat berjalan-jalan disurga.” Akhirnya Ia pun bergabung bersama Rasulullah saw dan gugurlah beliau sebagai syuhada uhud…..Allohu akbar
Alangkah indahnya perjalanan dakwah kita hari ini bila dipenuhi oleh kader-kader dakwah yang memiliki ruhul istijabah. Tidak ada lagi kader yang k’ed’er (banyak membuat alasan), saat panggilan dakwah datang masih bingung memilih yang mana yang harus prioitaskan / didahulukan, kepentingan dakwah atau kepentingan pribadi. bahkan kadang-kadang anak dan istri menjadi kambing hitam atas kelemahan iman dan semangat dakwah kita.
Alangkah nikmatnya bekerjasama (amal jamai) dengan orang yang memiliki ruhul istijabah disetiap derap langkah dakwah merekalah yang berdiri digarda terdepan dalam perjuangan membangun masa depan islam yang gemilang. Tak banyak bicara tapi lebih banyak bekerja, tak melulu teori tapi juga praktek, merekalah para pejuang dakwah yang jika diseru mereka menjawab,” sami’na waatho’na (kami dengar dan kami taat), atau ‘”labbaik wasa’daiq”( kami datang dan siap laksanakan perintah dengan senang hati)
Alloh berfirman :
انْفِرُواْ خِفَافاً وَثِقَالاً وَجَاهِدُواْ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”(Attaubah :41)
Alloh berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَجِيبُواْ لِلّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُم لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
”Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila kamu diseru kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu , ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. (Al-anfal : 24)
Semoga kita menjadi orang yang memiliki ruhul istijabah, karena hanya dengan Semangat menyambut seruan dakwah kita dapat membuktikan bahwa kita adalah kader dakwah. Tidak disebut da’I jika tak berdakwah, tidak disebut muharrik jika tak bergerak, tidak disebut aktifis jika tidak aktif, dan bukan kader dakwah jika masih k’ed’er…
Wallohu alam
Ustadz Muhammad Ridwan